Selasa, 12 September 2017

Penerbitan Alternatif: Pejuang yang Bergerak di Keheningan


Sebuah pepatah anonim mengatakan, “Jika kau hanya punya satu nyawa, kau mesti belajar cara membaca.” Pepatah itu tak berlebihan rasanya, mengingat kegiatan membaca—seperti yang telah kita ketahui—sangatlah bermanfaat. Namun, tampaknya pengetahuan kita tentang pentingnya membaca tak lantas jadi suatu pemahaman maupun kesadaran. Betapapun ia telah menempel pada kerak di benak kita, kesadaran untuk melakukan aktivitas membaca tertinggal di langit-langit kerongkongan atau di ujung lidah semata. Ia tak lantas jadi suatu perilaku maupun kebiasaan yang mengejawantah.
Sangat sedih rasanya, mendengar hasil survei dari Connecticut State University tentang Most Literate Nations. Dari 62 negara yang disurvei, Indonesia hanya lebih baik daripada Bostwana (sebuah negara berkembang di Afrika Tengah), menempatkan negeri kita di urutan ke-61, kedua dari bawah. Mari kita renungkan hal tersebut. Betapa negara sebesar ini, dengan jumlah penduduk terbesar keempat, memiliki sumber daya alam terlengkap di dunia, ternyata tak dapat berbicara banyak di percaturan global. Fakta yang menohok ulu hati kita adalah: budaya literasi dan minat baca masyarakat kita sungguh di bawah rata-rata dibandingkan negara lain. Perlahan negara-negara tetangga mulai merangkak naik, Vietnam, Singapura, Malaysia, dan negara-negara lain di Asia Tenggara mulai menununjukkan tajinya. Sementara itu, dalam kaitannya dengan budaya literasi, negara kita hanya bisa berada di atas Kamboja dan Laos, tersisih dari negara-negara yang dikenal dominan di Asia Tenggara.
Kemudian, mari kita bergeser ke Barat. Negara-negara dengan sistem pendidikan terbaik seperti Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia, menempati posisi-posisi terbaik dalam rangking literasi dan pendidikan. Ternyata, itu sejalan pula dengan survei kualitas kesejahteraan penduduknya, menempatkan negara-negera tersebut di urutan 20 besar negara terkaya dan termakmur. Maka, simpulan yang dapat kita tarik ialah: Jika negara dan masyarakat ingin maju, jangan lupakan pendidikan dan literasi. Kedua hal tersebut menjadi fondasi untuk memajukan sebuah negeri. Perjuangan untuk menjadikan literasi sebagai fokus sama pentingnya dengan menjadikan sektor pendidikan sebagai prioritas pembangunan sumber daya manusia.
Lantas, bicara soal literasi tak akan terpisahkan dengan buku sebagai sumber bacaan. Manakala berbicara tentang buku, aktivitas penerbitan pun mutlak harus kita telaah sebagai keniscayaan dalam pengadaan suatu bahan bacaan. Oleh sebab itu, penerbitan mesti mendapat tempat yang istimewa. Termasuk sistem-sistem penerbitan lainnya yang tergolong ke dalam sistem penerbitan alternatif. Sedikit wawasan yang bisa dibagi, jumlah terbitan buku di Indonesia tergolong rendah, tidak sampai 18.000 judul buku per tahun. Jumlah ini lebih rendah dibanding Jepang yang mencapai 40.000 judul buku per tahun, India 60.000, dan China sekitar 140.000 judul buku per tahun. Tentunya hal ini patut menjadi pertanyaan, perbandingan jumlah penduduk Indonesia dengan jumlah judul yang diterbitkan tampaknya sangat tak sebanding. Lain halnya dengan Jepang misalnya, yang jumlah penduduknya setengah dari jumlah penduduk Indonesia, yang mampu menerbitkan hingga 40.000 judul per tahun (hampir 2,5 kali lipat dari jumlah judul terbitan per tahun di Indonesia). Tak dapat dipungkiri pula, bahwa Jepang memiliki kualitas pendidikan yang baik dengan status negaranya yang maju. Literasi, pendidikan, dan minat maca saling berkelindan, membentuk suatu sulur-sulur yang menjadi akar dan fondasi bagi kemajuan suatu bangsa. Dengan demikian, kita tak lagi boleh menutup mata terhadap unsur-unsur tersebut.
Nah, bicara soal penerbitan, secara umum terbagi menjadi penerbitan tradisional dan self publishing. Sederhananya, pada penerbitan tradisional, penulis menyerahkan naskahnya berikut hak ekonomi atau hak eksploitasi naskah tersebut kepada penerbit dalam jangka waktu yang ditentukan. Hal ini terjadi ketika penerbit merasa sreg dengan naskah tersebut dan melihat adanya prospek yang baik di pasar atas naskah tersebut. Penerbit konvensional ini kemudian akan menggarapnya melalui proses editorial, mencetaknya, hingga kemudian menerbitkannya. Adapun pada self-publishing, si penulis menerbitkan naskahnya sendiri hingga menjadi buku. Seringkali pada self-publishing, penulis memiliki brand sendiri sebagai bendera atas naskahnya. Permodalan hingga perhitungan keuntungan sepenuhnya diatur oleh si penulis.
Pada perkembangannya, muncul istilah hybrid publishing. Sistem penerbitan ini merupakan kategori yang tak menempatkan dirinya pada kedua kategori sebelumnya (di luar tradisional dan self publishing). Ia merupakan makhluk baru yang muncul karena improvisasi dari para penerbit mayor maupun dari sebuah agensi penerbitan atau penyedia jasa penerbitan. Pada penerbitan tradisional, si penulis dibayar dan diatur oleh penerbit. Pada penerbitan self publishing, si penulis mengeluarkan modal untuk buku yang dia terbitkan. Sementara pada sistem penerbitan hybrid, terdapat model-model tertentu yang disepakati kedua belah pihak; ada layanan yang digratiskan dan ada layanan berbayar; menyangkut hal-hal yang terkait dengan editorial, pencetakan, hingga pemasaran buku.
Kemudian, muncul pula penerbitan indie atau independent publishing. Istilah indie dan self publishing menjadi semakin menyaru dan seringkali saling menggantikan. Padahal, ia berbeda. Pada awal kemunculannya di Barat, indie merupakan suatu entitas penerbit yang tidak terafiliasi dengan penerbit-penerbit mayor. Ia terpisah dan membuat arus sendiri yang terkadang tak sejalan dengan arus utama. Bisa dibiliang, mereka mengusung misi tertentu beserta idealisme yang mereka perjuangkan. Penerbitan indie ini kemudian perlahan menjadi suatu aktor penerbitan yang semakin diperhitungkan. Muncul pula penerbitan digital sebagai respons atas perkembangan teknologi. Pada indie publishing—sebagaimana yang dipahami masyarakat—para penulis bisa lebih leluasa untuk menerbitkan bukunya, dengan variasi tema dan genre yang lebih luas.
Perkembangan dunia penerbitan kini mencapai suatu babak baru, ketika semua kategori penerbitan tadi menjadi semakin bercampur baur, tak terlihat lagi dengan jelas mana yang konvensional, mana self-publishing, indie, atau yang digital. Semua jenis penerbitan tadi bebas berkarya dan berimprovisasi untuk dapat bersaing.
Penerbit bercorak indie-digital pun mulai tumbuh dengan menawarkan berbagai platform, terutama menggunakan website. Di dalam negeri, Bitread publishing menjadi contoh salah satu penerbitan indie-digital yang menggunakan platform website untuk membantu para penulisnya berkarya. Dengan platform tersebut, para penulis baik profesional maupun pemula, memanfaatkan kemudahan-kemudahan dalam menerbitkan karyanya. Soal platform digital, di luar negeri sana ada Amazon yang berusaha memanfaatkan ceruk pasar dengan sangat ambisius. Mereka memiliki aplikasi yang mereka kembangkan sendiri, bersamaan dengan platform pemasaran yang juga telah sangat dikenal.
Penerbitan indie menjadi suatu bukti bahwa “selalu ada tempat bagi siapa pun”. Penerbitan indie memiliki keleluasaan untuk mendarat di pasar-pasar yang spesifik, bahkan pada tema maupun genre yang dipandang tak seksi sekalipun. Buku jenis apapun dapat digarap dengan metode penerbitan indie tersebut; yang kemudian dapat membuat arus baru bahkan melawan arus yang telah menghegemoni.
Perkembangan dunia penerbitan dewasa ini sangatlah menarik bagi para penulis, terutama para penulis indie. Anggapan bahwa naskah-naskah atau buku yang tidak diterbitkan penerbit mayor hanya akan berakhir di tong sampah menjadi salah besar. Kini, semakin banyak penulis yang muncul ke permukaan tanpa bermitra dengan penerbit mayor, mereka memilih penerbit yang terbilang kecil atau maju dengan sistem self-publishing. Para penerbit mayor bergulat di pasar yang telah didikte pasar, menyisakan ruang-ruang yang tak tersentuh yang bisa menjadi potensi bagi penerbit indie dengan jenis terbitannya yang lebih luwes dan fleksibel. Para penulis indie memiliki motivasi kuat dalam menerbitkan karyanya. Mereka punya misi sendiri untuk menerbitkan secara indie. Entah memang karena panggilan hati, sekadar berbagi, atau ingin memberikan kontribusi pada komunitas tempat ia berekspresi. Mereka berani beda, membuat setiap penulis indie memiliki keunikannya masing-masing.
Penerbitan alternatif menjadi sebuah wahana yang turut berjuang di garis terdepan untuk memajukan literasi negeri. Kendatipun belum banyak yang mengenal mereka; walaupun sering dipandang sebelah mata. Mereka bergerak dalam senyap, memotivasi masyarakat untuk menulis dan berkarya sebagai bentuk perjuangan dalam membangun budaya literasi negeri. Membaca ialah salah satu tingkatan dasar yang perlu menjadi kebutuhan wajib kita, dan menulis ialah tahapan berikutnya yang lebih tinggi. Tak hanya mengolah dan memproduksi wacana dari suatu bacaan, menulis ialah kegiatan mencipta, membagi ilmu, opini, pemikiran, dan suara hati yang kelak mengabadi lewat sebuah tulisan. Bukan soal tradisional atau self-publishing, konvensional, digital, atau indie, ini semua adalah tentang kita sebagai bangsa yang beradab, dengan impiannya untuk menjadi bangsa yang besar dan bermartabat melalui suatu belantara yang bernama literasi. Maka, apapun label dan gaya-nya, menulislah dan terbitkanlah. Buat Indonesia kembali disegani dunia.[Luttfi Fatahillah]

Minggu, 02 April 2017

The Face - Wajah |Premise+Outline|



Premise
Seorang perempuan, terpidana kasus pembunuhan-berencana, harus menjalani operasi bedah plastik karena wajahnya disiram air keras. Sesaat sebelum insiden penyiraman air keras  itu, terjadi kontroversi yang menimbulkan gejolak, perempuan itu tak divonis mati, ia hanya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, walaupun ia mengakui perbuatannya dan tak menyatakan penyesalan sedikit pun.

Outline
Seorang perempuan muda, Maya, membunuh secara terencana sahabatnya sendiri, Naila. Tak diketahui secara pasti apa motif di balik pembunuhan itu. Sidang kasus pembunuhannya tak mampu mengungkap motifnya, pun keluarga, dan termasuk pengacaranya sendiri. Maya memilih bungkam. Persidangan atas kasusnya menjadi persidangan yang cukup dramatis dan mencengangkan, Maya menolak menyampaikan pledoi, dan menyatakan tidak menyesal sedikitpun atas perbuatan yang telah ia lakukan. 

Sidang kasus pembunuhan itu pada prosesenya berjalan efektif dan tak bertele-tele. Hingga kejutan terbesar pun muncul, saat hakim menjatuhkan vonis pada persidangan yang kesekian. Ia menjatuhkan vonis penjara seumur hidup kepada Maya alih-alih vonis hukuman mati. Orang-orang terperanjat, massa yang hadir histeris. Jaksa menyatakan naik-banding, bahkan pengacara juga tak habis pikir mengapa hakim menjatuhkan vonis demikian. Maya tertegun namun juga lega. 

Insiden menghebohkan berikutnya terjadi ketika Maya hendak meninggalkan ruang sidang untuk kembali ke kantor polisi. Tiba-tiba, seorang pria menyiramnya dengan air keras dan secara telak mengenai wajah Maya. Rusuh dan panik menutup episode persidangan terakhir Maya.

Wajah Maya mengalami kerusakan yang sangat fatal. Publik menyikapinya dengan kasar, menyebut bahwa Maya layak mendapatkannya. Ganjaran, karma, balasan, apapun istilahnya, mereka senang karena si pembunuh kejam nan bengis itu menderita. Kabar simpang siur mengatakan wajah Maya melepuh dengan parah sehingga berubah menjadi tampak mengerikan.

Maya lantas dirawat intensif di sebuah rumah sakit. Namun selepas peristiwa yang dialaminya, keberuntungan kembali menghampiri perempuan itu tanpa disangka-sangka. Maya mendapat penawaran untuk menjalani operasi plastik demi memperbaiki wajahnya. Seorang sponsor misterius siap membiayai pembedahan itu, bahkan dengan dokter-dokter bedah spesialis yang ditunjuk langsung oleh sang sponsor. Maya tak mampu menolak. Identitas sponsor itu tak pernah diketahui. Sebagian orang menganggap hal itu sebagai sebuah perbuatan konyol, sebagian lagi menganggapnya mulia, terlepas dari latarbelakang Maya yang seorang pembunuh. Maya kemudian menjalani operasi rekonstruksi wajah. Sebuah operasi yang berat dan serius. Operasi itu sendiri dilakukan beberapa tahap. 

Pada suatu kesempatan setelah keadaannya stabil, Maya membuat semacam pernyataan terbuka yang diunggah melalui internet. Menilai dari pernyataannya itu, Maya tampak kian melunak. Ia mengaku sangat menyesal telah membunuh Naila, sahabatnya sendiri. Ia pun mengucapkan terima kasih kepada mereka yang telah memungkinkan operasi rekonstruksi wajah itu terwujud. 

Suatu waktu, pengacara pria yang tempo lalu menangani kasusnya menjenguk Maya di rumah sakit. Ia merasa Maya sangat beruntung; sejak mula vonis yang dirasa janggal itu, banding jaksa yang tidak dikabulkan (padahal ayah Naila sesungguhnya adalah seorang taipan bisnis yang kaya raya dan berpengaruh. Ia amat mengutuk perbuatan Maya dan menyatakan tak pernah rela Naila dihabisi Maya), hingga Maya berkesempatan menjalani operasi untuk memperbaiki wajahnya yang rusak itu. Apapun yang terjadi, sang pengacara tetap menyampaikan rasa simpatinya, terlebih setelah mengetahui Maya yang dari waktu ke waktu berubah menjadi lebih baik, dewasa, dan teduh. Maya hanya mengatakan bahwa Tuhan masih memberinya kesempatan, bahwa Tuhan begitu sayang padanya. Ia menyesal dan berjanji akan menjadi pribadi yang baru, kendatipun sisa hidupnya harus ia habiskan di dalam benteng penjara. 

Beberapa bulan kemudian, semua prosedur telah dilalui. Pemulihan pun berjalan dengan sempurna. Seorang dokter di rumah sakit tempat Maya dirawat memberi kabar gembira itu. Waktunya telah tiba untuk membuka perban yang menutupi wajah Maya. 

Seorang dokter dan perawat menemani Maya untuk melakukan proses itu. Duduk pada sebuah kursi, Maya menghadap cermin. Jantungnya berdegup kencang. Sang dokter dan perawat pun menantikan momen ini. Maya amat bersemangat untuk melihat hasil operasi tersebut. Mulailah si perawat melepas gulungan perban itu dengan sangat hati-hati. Lilitan perban yang menutupi wajah Maya pelan-pelan dilepas. Mulai dari atas kepalanya, terus menurun pada dahi dan seterusnya. 
Namun, wajah ceria dokter dan perawat itu memudar, pada satu titik, bulu kuduk mereka bahkan meremang. Maya lebih dari itu, semakin terbuka perban itu, semakin kuat pula cekam yang menyerang. Saat seluruh perban yang menutupi wajah itu dilepas, mereka semua tercekat. Mulut dokter dan perawat menganga, mata mereka terbelalak tak percaya. Sesaat kemudian, suara jeritan yang paling mengerikan bergema, memantul-mantul di koridor rumah sakit. Lalu senyap menyergap. Maya membatu. Ada wajah cantik Naila pada cermin itu.[Luttfi Fatahillah]


Kamis, 03 November 2016

#4112016 Sekadar Mengingatkan

#4112016
Saya hanya merasa perlu mengingatkan.
Dan peristiwa esok akan dicatat dalam sejarah.



Demonstrasi besar-besaran yang akan digelar besok bisa jadi unjuk rasa paling "panas" dalam beberapa tahun terakhir. Puluhan ribu orang dari berbagai elemen ormas diprediksi akan tumpah di jantung kota Jakarta. Tuntutannya satu: adili sang terduga penista Al-Quran.

Ini bukan semata soal agama atau keyakinan, ini juga menyangkut ranah politik yang penuh daya ledak. Kepentingan tak bisa kita paksa untuk menyingkir dari arena tersebut. Maka, yang baik dan yang jahat sangat mungkin melebur jadi satu menjadi kerumunan abu-abu. 

Pesan saya untuk orang-orang baik, jangan terprovokasi, jangan tersulut mereka yang mencaci-maki. Ingat selalu siapa kawan Anda, dan jangan sekalipun mencari lawan di sana. Kerumunan besar yang datang dari rupa-rupa golongan tak akan sepenuhnya bersatu, rongga-rongga itulah yang bisa dimanfaatkan mereka yang mencoba mengail ikan di air keruh.

Jika ternyata kalian terpaksa harus adu badan dengan aparat keamanan, ingatlah bahwa mereka juga muslim, mereka juga saudara, mereka juga punya keluarga. Pikirkan juga orang-orang baik di sana yang sama seperti kalian, yang hanya punya satu niat untuk membela kitab dan agamanya. Bisa jadi kalian berani dan punya nyala semangat yang berapi-api. Tapi ingat, esok bukanlah perang.

Redam emosi kalian jika godaan menghadang. Ingat tujuan kalian semula. Lawan kalian bukanlah dia atau mereka, lawan kalian adalah hawa nafsu kalian sendiri.

Semoga esok jadi hari yang baik, hari ketika kalian dimuliakan Allah karena kesalehan dan akhlak kalian. Hari ketika kalian menjadi insan yang sebenar-benarnya pembela Al-Quran. Semoga negeri ini menjadi bukti bahwa umat Islam tak pernah rela tinggal diam.


#4112016

Senin, 29 Agustus 2016

Rokok Tak Senikmat Dulu



Isu sudah kadung menyebar, harga rokok akan naik drastis. Jika saja benar-benar terjadi, orang harus rela merogoh koceknya lebih dalam agar bisa mengisap uap nikotin, tar, krom, timbal, hidrogen sianida, dan kroninya ke dalam paru-paru. Tak sedikit orang yang mulai bersungut-sungut mengomentari wacana ini. Sebentar lagi harga rokok naik, minimal Rp50.000 per bungkus. Komoditas yang dalam billboard-billboard besar di jalanan selalu dipampang dengan atribut “membunuhmu” ini, harganya tak lagi bisa dibilang murah. Tentu tak begitu saja harga rokok bisa dinaikkan, perlu ada kajian mendalam dari sisi ekonomi, industri, petani, hingga sektor lapangan kerja.
Wacana ini muncul setelah dirilisnya sebuah penelitian yang dilakukan oleh para akademisi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Simpulan dari penelitian itu menyatakan bahwa ada keterkaitan yang erat antara harga rokok dan jumlah perokok. Tim peneliti mengungkap bahwa mayoritas perokok (jumlahnya sampai 70-an persen dari populasi), akan berhenti merokok jika harga rokok dinaikkan dua kali lipat. Sepintas, masuk akal. Jika harga naik, permintaan akan berkurang. Berangkat dari hasil penelitian itu, muncul gagasan untuk menaikkan harga rokok agar masyarakat bolak-balik berpikir sebelum membelanjakan uangnya demi segulungan koktail kimia yang disebut rokok. Harapannya, pelan-pelan jumlah perokok akan menurun.
Tapi rasanya tak sesederhana itu. Ini pandangan saya sebagai orang awam, saya tidak pernah melakukan penelitian, pun bukan kapasitas saya untuk memberikan penilaian tentang ini. Hanya saja, saya agak tergelitik, kala memikirkan seperti apa sesungguhnya (dan apa yang terjadi) di dalam benak seorang perokok. Katakanlah harga rokok jadi naik. Si perokok berpikir tujuh kali saat hendak membeli rokok, ia berniat untuk mengurangi jatah konsumsi rokoknya. Tapi kemudian, pada satu titik ia dilanda galau dan semakin terpojok, hingga tergoda untuk memaksakan diri membeli sebungkus rokok supaya ia bisa tetap merokok seperti sedia kala. Rokok itu adiktif, persis dengan narkoba. Apa pernah dengar pengguna narkoba yang berhenti madat karena harga narkoba yang mahal? Kemungkinannya kecil sekali (kalau tidak mau dibilang “tidak mungkin”). Yang ada malah kondisinya semakin parah. Si pecandu bisa melakukan apa saja demi memperoleh rupiah untuk digunakan membeli narkoba. Sudah jadi kebenaran umum bahwa ada banyak orang yang melakukan tindak kriminal ataupun asusila agar mampu membeli narkoba langganannya. Demikian halnya dengan rokok. Salah-salah orang malah nekat. Saya tak akan membuat andai-andai yang menakutkan, tapi coba bayangkanlah bagaimana jika si perokok jadi rajin menabung. Ia menyisihkan sedikit harta dan rezekinya agar bisa membeli sebungkus gulungan koktail kimia itu. Jumlah yang apabila dikumpulkan mungkin bisa digunakan untuk menyekolahkan anak atau dijadikan modal usaha. Stres pun rentan menjamur, sebab mereka yang penghasilannya pas-pasan—yang hanya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari—jelas tak akan mampu meng-cover “kebutuhan”-nya akan rokok.
Adakah hal lain yang perlu kita tengok? Misalnya, apa yang terjadi dengan para perokok berduit? Para perokok berduit boleh jadi tidak masuk dalam populasi yang diteliti oleh para akademisi tadi. Atau mungkin porsinya tak dapat jatah besar dalam sampel penelitian itu. Orang kaya atau yang punya penghasilan berlebih jelas tak akan terpengaruh. Mau harga rokok berapapun tak akan terlalu diambil pusing. Kebiasaan merokok tetap jalan, ia masih mampu petantang-petenteng, bahkan kali ini dengan prestise yang berlipat, sebab rokok bukan lagi barang murah. Lalu, bagaimana dengan produsen rokok? Akankah mereka terpengaruh? Akankah mereka jadi gulung tikar (alih-alih gulung tembakau)? Bisa jadi tidak secepat itu, sebab bagi para pecandu rokok, merokok adalah “kebutuhan” dan bukan sekadar gaya hidup yang hanya diberi label tersier. Lalu para produsen rokok dengan konsumen dari lapisan masyarakat yang berduit bagaimana? Tidak terlalu banyak pengaruhnya bagi mereka. Bagi rokok lokal pun, kenaikan cukai rokok juga tidak cukup berdampak. Apa yang sesungguhnya menjadi perhatian mereka ialah rokok-rokok impor, yang kini melahap 60% dari pangsa pasar Indonesia. Itulah yang sejak lama mereka khawatirkan. Apapun yang terjadi—jika harga rokok benar-benar naik—Indonesia tidak lantas kiamat.
Pendapatan APBN dari rokok mencapai ratusan triliun, dan tren-nya terus meningkat dari tahun ke tahun. Di samping itu, industri rokok adalah penyumbang devisa terbesar, bahkan jauh lebih besar daripada penerimaan sektor migas. Soal kenaikan harga rokok ini memang perlu pertimbangan masak-masak, ini bicara realitas. Misalnya saja, kita mesti memperhatikan nasib para petani tembakau. Lalu fakta bahwa jumlah tenaga kerja yang terserap oleh industri rokok angkanya mencapai jutaan kepala. Di tengah perjuangan melawan pengangguran, jumlah angkatan kerja sebanyak itu tak dapat dipandang sebelah mata. Ya, jika industri rokok dimandulkan atau bahkan dihentikan, seolah-olah dunia kiamat. Tapi, ingatlah, bahwa bertahun-tahun lamanya industri rokok memberikan “sumbangan” yang luar biasa besar bagi APBN dan devisa kita. Apakah tidak pernah selintas pun terpikir, cobalah dari nilai yang triliunan itu kita alokasikan sekian persen untuk membangun industri baru, disisihkan setiap tahun. Model industri baru itu harus mampu merangkul para pengusaha, petani, pekerja, atau siapa pun pemangku kepentingan yang terasosiasi dengan industri rokok. Carilah suatu solusi, suatu terobosan yang dapat menjadi substitusi industri rokok. Ada jutaan orang pintar di Indonesia, mestinya salah seorang dari mereka mampu mendobrak kejumudan ini.
“Rokok membunuhmu” adalah ungkapan yang dramatis untuk menggambarkan bahaya rokok. Lebih miris lagi ketika kita saksikan kata-kata itu terpampang jelas di iklan-iklan, di kemasan rokok, bahkan di papan-papan reklame sebesar alaihum gambreng yang bertebaran di jalan. Logikanya seperti ini: sudah jelas rokok itu bahaya, sudah jelas rokok itu bisa bikin paru-paru kita kian berongga. Tapi mengapa ia masih diiklankan dan dijual bebas mulai warung-warung di gang sampai toko swalayan di pinggir jalan? padahal kata-kata horor “rokok membunuhmu” ada di setiap bentuk pariwara rokok. Kita membacanya di mana-mana hampir setiap hari, di televisi, poster, hingga reklame raksasa yang nampang dengan begitu mencolok di jalan-jalan besar. Jika tahu benda itu dapat membunuh, mengapa ia masih diiklankan begitu rupa secara masif?
Ini opini saya. Anda kira saya bukan perokok? Jangan salah, saya juga perokok … pasif. Anda juga mungkin perokok pasif, ibu anda juga, anak anda juga, tetangga anda yang sedang hamil juga, bahkan bayi dan anak-anak anda juga. Banyak dari kita adalah perokok … pasif. 
Jadi, rokok akan naik harganya? Saya bukan orang yang apatis, juga tak suka senang sikap apriori. Saya hanya bisa berimajinasi dan menyuarakan opini. Menurut saya, naiknya harga rokok tak akan banyak membantu. Saat ini kita hanya punya satu solusi: berhentilah merokok. Teman-teman yang sekarang masih merokok harus camkan bahwa merokok adalah aktivitas yang merusak, tak hanya pribadi, tapi juga masyarakat. Ia juga mengancam generasi penerus kita. Jika mereka para pecandu narkoba saja ada yang sanggup bertobat, maka mengapa anda kalah dan menyerah hanya karena sejumput koktail kimia yang disebut rokok? Ini bukan soal bisa atau tidak; mungkin atau mustahil; ini soal “mau” atau “tidak”. Titik.[Luttfi Fatahillah]

Kamis, 18 Agustus 2016

BREAKING NEWS

BEWARA!
kawan-kawan, ada lomba menarik nih buat kamu yang doyan nulis dan suka nge-blog. Lomba menulis artikel tentang Pangkal Pinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Hadiahnya asyik, total 25 jutaan untuk 20 orang pemenang. keterangan lengkap bisa cek di microsite lombanya: www.bitread.co.id/pesonapangkalpinang #pesonapangkalpinang [Luttfi Fatahillah]




Selasa, 16 Agustus 2016

Menjadi Manusia karena Buku

Apa yang paling berharga dari seorang manusia ialah akal pikirannya. Inilah yang membedakan manusia dengan hewan. Kedua makhluk ini sama-sama makan, sama-sama melakukan ekskresi, sekresi, dan sama-sama bereproduksi. Bedanya, kita bisa bernalar dan menggunakan hati, sementara hewan tidak. Otak dan hati merupakan dua elemen yang membentuk akal dan pikiran. Oleh karena itu di dalam Islam, ada hikmahnya mengapa gerakan sujud menjadi momen yang teramat dahsyat. Salah satu wujud mengagungkan Tuhan sekaligus mengerdilkan diri kita ialah dengan cara bersujud. Otak kita yang sangat berharga ini--di dalamnya terdapat triliunan sel, memuat 1 miliar bit memori (setara dengan 500 set ensiklopedi lengkap), 100 miliar neuron yang fungsinya mengingat dengan 100 triliun koneksi di antara mereka--diletakkan sejajar dengan kaki yang begitu rendah, menyentuh tanah, seolah sederajat dengan telapak kaki kita yang sering menapak pada sesuatu yang kotor. Timbunan protein dan jaringan yang kita namakan otak ini, tak ternilai harganya. Di sanalah ide dan gagasan manusia lahir; meletup dan berdenyut setiap saat.

Produk dari onggokan yang dinamai otak ini adalah ide atau pemikiran. Dengan pemikiran, orang bisa jadi apa saja, orang juga bisa berubah menjadi apa saja. Anda bisa memaksa seseorang untuk melakukan apa pun yang anda mau, tapi tidak demikian dengan pikirannya. Isi hati dan pikiran seseorang takkan dapat dipaksa oleh ancaman atau tekanan dalam wujud lahiriah. Itulah yang membuat sebuah ideologi dapat hidup langgeng walaupun si pencetusnya telah mangkat. Yusuf Estes pernah berkata, "Anda dapat mengunci saya di dalam sebuah peti, lalu melempar saya ke lautan, tapi Anda tidak dapat melakukan apa-apa pada hati (pikiran) saya." Maka, untuk mengubah perilaku atau pemikiran seseorang, caranya ialah dengan melakukan interaksi pemikiran, bukan dengan kekerasan atau tindakan fisik yang gegabah lagi picik. Anda tak bisa meminta seseorang agar berbuat baik melaui paksaan.

Ada banyak media untuk menyuguhkan pemikiran. Apalagi di era teknologi canggih seperti sekarang ini, rupa-rupa media tersedia. Kita hanya tinggal memilihnya saja, sesuai sasaran dan gaya kita. Tapi di tengah itu semua, buku masih menjadi media yang terpandang. Sebab di dalam sebuah buku, tercurahlah gagasan-gagasan dari otak manusia yang tak ternilai harganya. Ia menjadi corong bagi tersebarnya berbagai idealisme dan pemikiran; hasil sulingan ide untuk dicecap segala jenis nalar dan logika. Apa pun bentuknya, baik itu di alam nyata maupun yang tersedia di dunia maya, buku tetap menjadi etalase intelektual yang menawarkan riuhnya gempita pemikiran.

Tanpa ide dan pikiran, tak akan ada buku. Oleh musabab itu, buku dan gagasan menjadi dua sejoli yang tak terpisahkan. Selama ada gejolak pemikiran, buku akan tetap ada. Ia akan senantiasa hadir di tengah peradaban, merekam, melanggengkan, atau justru memupusnya. Maka manusia dengan otaknya yang dijejali ide, tak akan mampu lepas dari buku. Pada tingkatan yang lebih tinggi, membaca saja tidak cukup, tapi menulislah, sebab menulis adalah sarana manusia untuk mencapai "keabadian".

Memandang buku sebelah mata adalah penghinaan terhadap takdir Tuhan. Orang yang tak peduli pada buku sesungguhnya sedang melakukan salah satu keteledoran yang berbahaya. Jika buku tak punya daya teramat hebat, mengapa Tuhan memutuskan untuk memuat firman-Nya pada mushaf-mushaf yang disebut buku? Mesti kita ingat juga, bahwa dalam kepercayaan umat Muslim, ayat pertama yang dilafalkan sang nabi ialah "Iqra" (bacalah; membaca teks, membaca alam semesta, membaca keagungan Tuhan). Merupakan suatu kezaliman manakala kita menganggap buku sebagai benda tak berharga. Sebuah kutipan anonim menyebutkan, "jika kau merasa hanya punya satu nyawa, kamu mesti belajar caranya membaca buku."

Buku bisa mengubah hidup kita. Tentu kita masih ingat dengan cerita tentang petualangan sekelompok anak di pesisir Belitung yang ternyata kelak memberikan dampak positif pada masyarakat di sekitar sana. Tak hanya itu, orang pun jadi tergerak untuk menggali lebih dalam tentang hakikat pendidikan. Jangan lupa juga bagaimana Max Havelaar dapat membukakan mata dunia tentang ironi kekuasaan dan penderitaan bangsa ini kala Indonesia dijerat kolonialisme model lama. Atau coba bacalah The Old Man and The Sea, atau buku-buku motivasi tulisan Nick Vujicic dan Parlindungan Marpaung yang inspiratif dan mengena di hati. Jadi, buku jelas punya daya dan mampu mengubah. Jika kita masih saja tak peduli dengan buku yang dengan narasinya mampu mengubah kehidupan, maka tanyalah diri kita; pantaskah kita disebut manusia.[Luttfi Fatahillah]

Minggu, 26 Juni 2016

GatotKaca! (Gagal Total Kalo Nggak Ngaca!)



Sebuah pepatah yang di dalamnya menyebut-nyebut “semut” dan “gajah” sering kali kita ucapkan kala menyindir seseorang. Kata pepatah itu, kesalahan-kesalahan orang lain mudah sekali tampak, sedangkan kesalahan diri luput begitu saja. Sikap seperti ini seolah menjadi makanan kita sehari-hari, gampang sekali ditemui: di lingkungan keluarga, tempat kerja, kampus, sekolah, di mana saja. Pelakunya bisa atasan kita, bawahan, kolega, ayah, anak, istri, orang lain, dan tentu saja—diri kita sendiri. Hal ini tak lagi jadi fenomena langka, sebab sekarang ia menjadi lumrah adanya. Ia seperti wabah penyakit, saat-saat ketika hedonisme dan kemunafikan merajalela. Muncul pertanyaan, bisakah itu diubah? Jika kita anggap itu sebagai sifat kodrati manusia, jawabannya tentu saja “tidak”, tapi jika kita sedikit saja optimistis dan menganggapnya sebagai suatu penyakit, tentu kita semua sepakat bahwa tak ada penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Semua ada obatnya, kecuali kematian.
GatotKaca tidak bermaksud menggurui, sekadar mengajak berbagi tentang banyak hal di sekitar Anda. Di tengah itu semua, persoalan menyangkut pepatah “semut” dan “gajah” itu akan jadi benang merah. GatotKaca bertujuan untuk mengubah paradigma tentang kesalahan. Siapa yang berbuat salah dan apa akibatnya. Siapa yang harus mengubah dan seperti apa caranya. Tapi, tiap orang dapat menerimanya dengan cara yang berbeda, sebab sekali lagi GatotKaca tak pernah berniat menggurui. Si A bisa saja menangkap ocehannya sebagai x, tapi si B justru y. Yang jelas, ia tak pernah memaksa Anda untuk melakukan sesuatu, sebab segala hal yang muncul dari paksaan tak pernah hakiki, selalu artifisial.
GatotKaca menyuguhkan Anda macam-macam topik hangat. Sekali waktu Anda bisa menganggapnya sebagai hiburan semata sebab bisa jadi kental dengan kejenakaan. Bisa pula merasa kesal sebab ia seolah menceramahi anda dengan kasar. Atau justru tertampar, sebab Anda kemudian tersadar. Apa pun hasilnya, GatotKaca akan membawa Anda pada monolog ringan dan renyah. Mengajak Anda memikirkan kembali pepatah “semut” dan “gajah” dalam sudut pandang berbeda. GatotKaca meredam justifikasi negatif Anda terhadap orang lain, sebab apa pun yang terjadi, Anda memegang kendali atas pilihan-pilihan dalam hidup Anda. Jika Anda ingin berhasil dan “segalanya berjalan lancar”, tanamkanlah nilai-nilai dan etos luhur pada diri Anda. Stop menyalahkan orang lain. Evaluasi diri menjadi kunci. Hentikan buang-buang waktu dengan meneliti semut di ujung laut, sebab toh ada seekor gajah yang sedang nongkrong—tepat di pelupuk mata Anda.
GatotKaca coming soon on July … in this blog :) hehehe. [Luttfi Fatahillah]