Selasa, 28 November 2017

Sawang - OUTLINE




M

alam pekat. Sebuah rumah tampak berdiri kokoh. Tak terlalu besar. Tepat di depannya, sepetak halaman kecil yang ditumbuhi rerumputan dan bunga-bungaan sekadarnya, menjadi pemanis di bagian muka. Sepertinya telah berminggu-minggu mereka tak terurus dan ditelantarkan. Rumah itu bukan rumah tua yang usang, ia rumah yang cukup nyaman untuk ditinggali.

Selangkah dari tepi halaman yang tak seberapa luas itu, terdapat sepetak teras. Sementara pintu utama merupakan pintu dengan ukuran yang cukup besar dengan desain sederhana, berpadan dengan sepasang jendela yang mengapitnya di kedua sisi secara simetris. Di lantai dua, sepasang jendela lainnya berbentuk ramping dengan kaca bermozaik warna-warni menambah sentuhan estetis pada bagian atas bangunan.

Suara jangkrik nyaring. Bulan terang, tapi ia hanya mampu membuat pantulan cahaya lembut pada dedaunan, pohon, rumput, dan tentu saja, pada bangunan rumah itu yang sunyi dan redup.

Sawang tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Pria muda itu terenyak kaget. Sebentar ia terdiam. Ruangan tempat dia beristirahat itu bernuansa remang-remang. Wajah Sawang memperlihatkan kekalutan. Malam itu, Sawang terbangun dengan napas memburu.

***

Malam berikutnya. Rerumputan dan bunga-bungaan di halaman masih membisu. Dingin dan tak bergairah. Seolah mereka menampakkan warnanya hanya ketika cahaya matahari mencumbui bumi. Di dalam, seekor serangga terbang menari di dekat bola lampu yang terpasang pada lelangit di lantai dua. Kepak sayapnya sesekali menyentuh plafon, menimbulkan suara yang mengganggu. Tapi Sawang tak menghiraukannya, ia masih asyik bersandar ke dinding sambil membaca sebuah buku.

Ruangan di lantai dua itu cukup lapang; terdapat void (area kosong) di sisi lainnya, menyediakan pemandangan yang mengarah langsung ke lantai satu. Sawang menjadikan lantai dua itu sebagai ruang rekreasi. Ia bahkan sering tidur di ruangan itu. Saat ini, ia terpekur pada sebuah buku: Melawan Tipuan Setan. Ekspresi Sawang serius, mencerna kata demi kata, meresapi setiap pesan dan maknanya. Hening, hanya Sawang seorang diri di rumah itu.

Namun, Sawang lantas tersentak. Suara yang entah apa—seperti suara benda jatuh atau dilempar—terdengar dari luar rumahnya. Senyap, cekam siap menerkam. Pikirannya menolak mentah-mentah kalau itu hanya ulah seekor kucing gelandangan.

Sawang berdiri, lantas berjalan menuju tangga. Menjejak anak tangga satu per satu. Bayangannya yang tampak pada dinding mengikutinya. Ia bergerak pelan dan tenang seakan tak ingin tepergok. Tangan Sawang memegangi railing tangga, meliuk mengikuti sudut kelokannya. Walaupun batinnya tak tenang, ia tak sampai mencengkeram pegangan tangga itu. Ia berjalan menapaki tangga dengan luwes.

Sesampainya di lantai satu, Sawang mulai berjalan mengendap. Pelan-pelan ia mendekat menuju jendela di ruang tamu. Di luar bagai tak ada cahaya, nyaris gulita. Ia dekatkan kepalanya ke jendela. Mata Sawang berusaha mencari sesuatu yang ia pun tak yakin sedang mencari apa. Dahinya berkerut. Ia mengamati, menyapu pandangannya dari kanan ke kiri. Lalu pada satu titik, ia terperanjat.

Ada sosok yang tengah berdiri di sana. Laki-laki? Tak jelas. Ia berdiri di jalan, tak terlalu jauh dari halaman depan rumahnya. Manusiakah? Sawang menelan ludah. Ia menundukkan kepala sejenak untuk berpikir, mencoba berkompromi dan meredakan rasa kaget itu. Sesaat kemudian, ia kembali melihat ke arah luar. Sosok itu masih berdiri di sana. Seperti apa rupa atau wajahnya, ia tak tahu persis. Tapi, Sawang menaksir bahwa sosok itu merupakan bentuk seorang laki-laki. Sawang lalu mengalihkan pandangan ke jam di belakangnya, jam bundar itu menempel di dinding dekat tangga: 00.30. Namun saat ia kembali mengarahkan pandangan ke luar .... Sosok itu tak lagi ia temui di tempatnya tadi. Raib. Sawang kalut. Kini nyata benar kalau ia merasa takut. Maka mulai saat itu, pikiran Sawang sering tak tenang.

***

Malam kesekian setelah “penampakan” sosok itu, Sawang kembali terbangun dengan perasaan gundah. Ia lalu memutuskan untuk membasahi tenggorokannya dengan air putih. Saat ia menuju dapur, Sawang tiba-tiba menghentikan langkahnya, telinganya menangkap bunyi yang terdengar cukup akrab. Ya, suara itu. Ia mendongak ke atas. Seekor serangga tampak bermain-main dengan bola lampu di lantai dua. Mungkin masih serangga yang sama. Sudah berapa malam atau berapa kali ia menyatroni rumah itu? Sawang tak ingat dan tak mempermasalahkannya. Ia anggap serangga itu teman. Sawang tersenyum kecil.

Sawang melanjutkan langkahnya menuju dapur. Diambilnya sebuah gelas. Ia kemudian menggelontorkan air dari keran dispenser. Saat ia hendak meneguk air di dalam gelas, suara gonggong anjing mengagetkan Sawang, anjing di sekitar sana tiba-tiba menyalak dan menggonggong liar. Secara spontan, Sawang menengok ke jendela, pandangannya menerawang ke luar. Denah rumah itu menempatkan ruang tamu, sebuah kamar, dan dapur berdampingan. Tata ruang itu membuat orang yang berada di dapur dapat melihat dengan jelas bagian depan rumah, memandang dari jendela dapur yang langsung mengarah ke luar.

Saat Sawang melihat ke luar melalui jendela dapur, ia terperanjat. Sawang kembali melihat sosok misterius di depan rumah itu. Kini ia berdiri lebih dekat daripada sebelumnya, di dekat halaman, di samping tanaman yang tumbuh hampir setinggi orang dewasa. Kali ini, Sawang yakin benar bahwa itu adalah sosok yang menyerupai seorang laki-laki. Sawang juga tahu kalau itu masih sosok yang sama. Tubuhnya terlihat tegap, sedikit gempal. Sawang ternganga. “Siapa di luar ...” gumamnya lemah.

Sawang beringsut mundur. Meletakkan gelas dengan agak serampangan di sisi wastafel, lalu berbalik dan berjalan sambil menundukkan kepala dengan tatapan kosong. Ia menuju tangga hendak ke lantai dua. Sawang tak tahu mengapa ia memutuskan untuk bergerak ke lantai dua. Tak ada alasan pasti untuk itu. Satu hal yang Sawang tahu, ia ingin menjauh dari sosok yang tengah berdiri di luar.

Maka pada anak tangga kesekian, Sawang terdorong untuk menengok kembali ke arah jendela dapur. Lebih karena penasaran yang dipicu kenekatan. Benar saja, sosok itu masih berdiri di sana. Sawang memicingkan mata, tertegun sejenak. Memperhatikan baik-baik sosok itu. Setelah kembali tersadar dengan situasi yang tengah ia hadapi, Sawang buru-buru melanjutkan langkahnya menaiki tangga. Sesampainya di lantai dua, Sawang berjalan ke ujung ruangan, tampak sehelai matras tergeletak di sana.

Sawang merebahkan diri, memutar badan hingga sepenuhnya menghadap ke tembok. Ia meringkuk. Perasaan-perasaan ganjil mulai menjamahi Sawang. Ia terjaga sepanjang malam dengan kecamuk di pikirannya. Sementara, serangga itu masih terbang seperti orang mabuk, menari, menabrak-nabrak plafon dan bola lampu, menimbulkan suara berisik yang mengganggu.

***



Malam berikutnya, Sawang tak menyangka ia bakal dipaksa menyerah. Saat itu, ia tengah bersantai di sebuah sofa untuk melanjutkan bacaannya, Melawan Tipuan Setan. Tapi tiba-tiba, ia tersentak oleh suara-suara dari arah luar. Apalagi ini?

Ia melempar buku itu ke sofa. Sawang segera beranjak menuju jendela. Beringsut, mengendap. Akhirnya ia sampai juga ke dekat jendela di kamar itu, lalu menengok ke arah luar. Sawang tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia melihat dua sosok yang tengah berdiri di luar sana. Penampakan malam itu terlihat lebih dramatis. Salah satu dari dua sosok itu berpendar, mengeluarkan cahaya lembut kehijauan. Cepat-cepat Sawang membalikkan badan, ia merosot dan terduduk di lantai. Ia menyandarkan tubuhnya pada tembok, persis di bawah jendela itu. “Cukup, gue mesti pindah dari rumah ini!” kata Sawang kesal. Napasnya terengah. Keringat dingin membasahi keningnya. Sejurus kemudian, Sawang berdiri, ia memutuskan untuk pindah dari rumah itu. Malam itu juga.

Di luar rumah. Tepat ketika Sawang duduk di lantai dan tersandar pada tembok setelah menyaksikan keanehan yang menurutnya kian menggila, dua orang tengah berdiri di luar, memperhatikan rumah itu dengan jantung berdebar.

“Bang, kejadiannya pasti malam-malam. Jam seginian, lah,” kata seorang pria berpostur tegap dan sedikit gempal.

Orang yang dipanggil “abang” itu hanya mengangguk. Ia mengamati rumah itu dari sudut ke sudut, dari atas sampai bawah, seperti tengah menilai orang asing yang berpenampilan tak wajar.

“Kalau siang, sih, nggak ada apa-apa, Bang. Tapi kalau malam, suasananya langsung nggak enak. Lampu suka nyala sendiri. Barang-barang kadang hilang, taunya pindah tempat. Suara-suara di kamar mandi. Lama-lama saya nggak tahan,” lanjut pria itu.

“Dia takut matahari. Kalau siang dia sembunyi, mungkin istirahat juga. Malam baru dia ‘bangun’,” kata lawan bicaranya dengan nada datar.

Pria di sebelahnya hanya mengangguk, mulutnya mengerucut. Seolah paham dengan asumsi itu.

“Saya udah pastiin, Bang. Rumah ini memang ada yang ngisi. Abang kan orang pintar, pasti bisa ngerasain, kan?” kata si pria gempal.

Flashback 1...

Pria gempal itu sampai di depan rumah miliknya yang telah berminggu-minggu ia tinggalkan. Memperhatikan isi rumah dari luar. Lantai dua rumah itu temaram oleh cahaya dari dalam ruangan. Mengherankan. Ia membuang ke jalan sebuah kaleng bekas minuman soda yang isinya telah habis ia minum, menimbulkan bunyi kelontang yang cukup nyaring. Ia memperhatikan lagi dengan teliti rumah itu. Matanya awas, memaku ke arah jendela depan di lantai satu. Lalu beberapa saat kemudian, ia bergidik.

Flashback 2 ...

Larut malam lainnya, pria itu kembali mengamati rumahnya. Anjing menggonggong tak mau diam. Pria itu tak mengacuhkannya. Wajar kalau anjing tak bisa tenang, mungkin mereka merasakan kehadiran setan, pikirnya. Kali ini ia mengambil posisi yang lebih dekat ke halaman. Ia berdiri di samping sebuah tanaman setinggi dadanya. Lalu, seketika ia mengalihkan pandangan ke arah dapur saat ia mendengar suara-suara gaduh dari dalam sana. Ia berhasil memberanikan diri, tetap berdiri di sana sambil memperhatikan sosok yang bergerak-gerak di dalam rumah.

Back to present ...

“Gimana, Bang?” tanya si pria gempal kepada orang di sebelahnya.

“Ya, kita usir dia sekarang, bahan-bahannya udah saya bawa, kok.”

Mereka berjalan menuju pintu dengan langkah meyakinkan. Pria yang dipanggil “abang” memegang sesuatu yang terbungkus kain kumal di tangan kanannya. Saat mereka hampir mencapai pintu depan, ruangan di lantai dua tak lagi gelap. Dari dalam, cahaya lampu berkedip-kedip tak keruan. Sawang terusik, ia panik![Luttfi Fatahillah]





~ END ~

Selasa, 14 November 2017

Pesta Itu Bernama Ubud Writers & Readers Festival




Saya merasa beruntung karena berkesempatan untuk menjadi tamu di Ubud Writers & Readers Festival yang dihelat pada 25-29 Oktober tahun ini. Bagi para pegiat seni, sastra, dan literasi, festival ini bisa jadi sudah mereka kenal atau minimal pernah mereka dengar. Kali pertama saya menaruh perhatian pada event tahunan ini kira-kira pada 2010 (saya masih bekerja di penerbit konvensional), ketika seorang penulis memberitahu saya bahwa dia diundang ke UWRF sebagai pembicara. Dari penjelasannya, saya menangkap kesan bahwa festival tersebut merupakan salah satu gelaran literasi yang cukup bergengsi. Walaupun demikian, dari tahun ke tahun saya tak pernah sengaja mengikuti kabar tentangnya. Hingga enam tahun kemudian, penerbit tempat saya bekerja bermitra dengan founder festival tersebut—Yayasan Mudra Swari Saraswati. Kami menerbitkan buku antologi, berisi kompilasi tulisan lintas-genre dari para penulis muda; mulai puisi, prosa, cerpen, esai, petikan novel, hingga petikan naskah drama yang lolos kurasi untuk dimuat dalam antologi resmi Ubud Writes & Readers Festival. Tahun ini, kami kembali berkolaborasi. Saya pun kecipratan berkahnya dengan diundang untuk menghadiri festival tersebut. Dengan mengantongi akses 4 day free pass, saya bebas mengikuti semua acara yang digelar di sana. Bahkan ikut diundang pada gala opening pada malam tanggal 24 Oktober.

Berkelana di UWRF ternyata menghadirkan perasaan yang menggelitik. Aneka ragam manusia dari berbagai latar belakang yang telah menumpahkan kerja kerasnya pada dunia seni dan literasi tampil menjadi panelis, membagi ilmu dan wawasannya. UWRF memang tak hanya soal buku, sastra, jurnalistik, atau hal-hal yang berbau tulis-menulis. UWRF semacam hajat besar, sebuah wahana apresiasi terhadap seni dan kreativitas. Musik, lukisan, fotografi, drama, bahkan kuliner turut menjadi menu yang ditawarkan dalam festival ini. Tak heran, setiap tahun festival ini selalu ramai dikunjungi tamu-tamu yang datang dari berbagai tempat, dalam maupun luar negeri. Semua mata acara tersebut tersaji dalam bentuk event-event berlabel Talk Show, Workshop, Book Launching, Food & Ubud Culture, After Dark, Free Event, Pameran, dan Satellite Event.

Mereka yang datang tak merasa “sayang” dengan biaya yang harus dikeluarkan. Semua itu digantikan oleh berbagai bentuk diskusi dan sajian hiburan yang dapat memuaskan dahaga intelektualitas mereka. Di sana, saya bertemu pula dengan seorang perempuan dan penulis asal Sumba. Ia harus menempuh jarak ratusan kilometer jauhnya untuk sampai ke Ubud. Tentu tak sedikit ongkos yang harus dia keluarkan, belum lagi biaya menginap, makan, dan lain sebagainya. Bagi saya, hal ini pun istimewa, sebab sekilas-pandang, saya perkirakan peserta atau pengunjung festival ini 80% adalah warga asing. Peserta lokal hanya sebagian kecil saja, antara memang benar-benar peserta atau “hanya” staf panitia. Menghadiri UWRF ibarat sebuah rekreasi yang dapat menambah wawasan kita—atau bahkan kepekaan seni—melalui kemasan-kemasan acara sederhana yang tetap berbobot. Saya seolah berada entah di mana; alamnya di Ubud, namun dengan mudahnya kita bisa menemukan gerombolan warga asing yang sedang becengkerama, berdiskusi, atau tengah berjalan kaki menuju event yang ia tuju. Di sini, kami ibarat lebah-lebah di padang bunga. Setelah selesai mengambil nektar dari satu pangkal kelopak, kami bergegas terbang lagi menuju bunga yang lain.

Tersedia lebih dari 200 butir acara dalam gelaran ini (saya masih takjub dengan para panitia, bagaimana mereka mengatur acara demi acara dan memastikan semua berjalan dengan apik). Acara tersebut dilaksanakan secara pararel. Format ini membuat kita harus pandai memilah, acara mana saja yang akan kita ikuti. Sebab tak jarang, ada event-event menarik yang waktu pelaksanaannya bentrok. Mau tak mau kita harus memilih, datang ke diskusi tentang proses kreatif penulisan novel kriminal bersama penulis buku best-seller Australia atau menyimak cerita seorang jurnalis yang sering diterjunkan ke wilayah konflik. Begitu kira-kira gambarannya. Sebenarnya semua acara menarik, semua acara sayang untuk dilewatkan. Tapi di situlah gregetnya. Kita mesti menentukan dan mengatur jadwal harian kita, mana saja event yang akan kita ikuti (dan tentunya yang kita lewatkan sebagai konsekuensi pilihan kita). Untungnya, kita dibekali sebuah program book sebagai buku panduan kita selama di sana. Di dalamnya termuat jadwal acara berikut deskripsinya dengan penyajian yang praktis sekaligus menarik—sangat membantu.

Pada UWRF kali ini, Yayasan Mudra Swari Saraswati juga menganugerahkan lifetime achievement kepada novelis legendaris N.H. Dini. Beliau dinobatkan sebagai penulis inspiratif karena mampu menyarikan ide-ide yang dinilai progresif dalam karya-karya novelnya. Seremonial pemberian penghargaan itu dilakukan saat Gala Opening. Malam itu, Pierre Coffin, sang putra, menyodorkan lengannya untuk menggantikan tongkat sang Ibu, memandunya sampai ke atas panggung (saya baru tahu beberapa hari sebelum acara bahwa Pierre Coffin adalah putra N.H. Dini). N.H. Dini menerima penghargaan atas kontribusinya yang ia wujudkan dalam karya-karyanya, disaksikan tamu undangan dan hadirin Gala Opening, di antara mereka duduk pula perwakilan kedutaan-kedutaan negara sahabat dan pejabat kementerian pariwisata RI.

Sejumlah lokasi dipilih sebagai venue untuk menggelar acara-acara tersebut. Venue-venue yang dipilih juga terbilang unik, mulai museum, kafe, saung, joglo, hingga puri yang juga biasa disebut “Ubud Palace” atau Puri Ubud. Suatu waktu, saya baru saja selesai mengikuti kegiatan di Museum Neka untuk menyaksikan sesi sharing Pierre Coffin, topiknya tentang kisah di balik penemuan karakter Minion “Despicable Me”. Ketika saya berjalan menuju lokasi acara berikutnya—saat itu kebetulan saya memarkir motor sewaan di tempat lain—seorang perempuan berlari tergopoh-gopoh dari arah berlawanan. “Anda baru dari Neka?” (dia mengetahui saya pengunjung UWRF dari nametag yang saya kenakan, semua orang mengenakan nametag di acara ini). Saya mengiyakan. Lalu dia bertanya lagi apakah acara Pierre Coffin sudah selesai. “Ya, baru saja selesai. Sekarang mereka sedang sesi tanda-tangan,” jawab saya. Ia lalu menampakkan ekspresi kecewa. Terlambat, pikirnya. Sambil mengucapkan terima kasih ia pun berlalu, melanjutkan jogging-nya menuju Museum Neka. 

Pada hari pertama festival digelar, saya menghadiri sesi sharing N.H. Dini. Sebuah aula yang “terbuka” dengan ditopang tiang-tiang dan selapis dinding di latarnya, telah disesaki peserta bahkan sejak acara belum dimulai. Selama acara berlangsung, entah itu penulis, jurnalis, atau sekadar penikmat literasi, dengan antusias mendengar cerita N.H. Dini. Baginya, menulis adalah upaya peninggalan jejak dan proses pengawetan ide. Suatu saat kita pasti akan wafat, tapi tulisan dan ide-ide kita akan tetap hidup selama ada yang membaca dan mengapresisasinya. N.H. Dini yang usianya sudah terbilang senja, masih mempertahankan selera humornya. Hadirin beberapa kali tertawa, salah satunya saat dia melontarkan lelucon bahwa ia menikahi “stranger”. Secara saklek, “orang asing” jika diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi stranger, padahal padanan “orang asing” yang tepat dalam konteks tersebut adalah foreigner, sementara stranger adalah orang asing dalam artian “orang yang tidak dikenal”. Panitia saat itu sebenarnya sudah mendudukkan seorang penerjemah di sebelah beliau. Namun karena dia bersikeras ingin memaparkannya ceritanya dalam bahasa Inggris, alhasil sang penerjemah hanya sesekali menerjemahkan atau memberikan penjelas. Memang begitulah “gaya” diskusi di UWRF, sederhana, cair, dan santai.  

Momen yang tak kalah menariknya ialah ketika menyaksikan diskusi yang juga diisi oleh para pegiat sastra dan literasi dalam negeri. Penulis-penulis kondang pun ikut meramaikan kegiatan ini. Di antara mereka ada Seno Gumira Ajidarma, Joko Pinurbo, Djenar Maesa Ayu, Trinity, Intan Paramaditha. Leila S. Chudori, Debra Yatim, dan nama-nama lain yang terbilang kawakan pun ikut berbagi. Belum lagi, sesi diskusi yang mengundang para pembicara dari kalangan penulis muda juga seolah menyempurnakan komposisi para pembicara. Karya para penulis muda inilah yang dimuat dalam antologi UWRF yang sejalan dengan tema besar acaranya, mengambil Origins sebagai judul antologi tersebut.
Emerging Writers UWRF 2017

Soal antologi, buku ini merupakan buah dari program Emerging Writers yang diprakarsai oleh UWRF sendiri. Setiap tahun, UWRF membuka kesempatan bagi para penulis tanpa batasan usia maupun kriteria khusus, untuk mengirimkan karya-karyanya. Setiap karya yang diterima panitia akan dikurasi. Tersebutlah dua sosok kurator pada UWRF kali ini, yakni Seno Gumira Ajidarma dan Leila S. Chudori. Karya-karya tersebut kemudian dinilai dan diseleksi. Menurut keterangan yang disampaikan oleh Janet DeNeefe (founder Yayasan Mudra Swari Saraswati, beliau juga merupakan pembina sekaligus Pengarah tim UWRF), naskah ajuan yang masuk berjumlah lebih dari 900. Sungguh, suatu jumlah yang tak main-main. Dari 900-an naskah itu, hanya terpilih 15 naskah untuk dimuat dalam antologi UWRF. Terbayang betapa ketat penialaiannya dan betapa beruntungnya mereka yang berhasil lolos untuk diundang ke Ubud. Emerging Writers yang terpilih akan dipasangkan dengan patron mereka masing-masing, diberi tiket pesawat, disediakan akomodasi dan uang saku selama di Ubud. Asyik, ya? Di UWRF, mereka diberikan sesi untuk membagi pengalaman dan ide-idenya, semua yang orisinal dari tempat mereka berasal. Saya mengikuti beberapa sesi yang diisi oleh para penulis Emerging Writers. Salah satu sesi yang menurut saya cukup berkesan adalah sesi Morika Tetelepta dari Maluku. Tak hanya jago menulis, ia pun pandai bermusik lewat aliran hiphop dan rap. Namun yang membuatnya semakin unik ialah, dalam lagunya ia menyematkan pesan tentang kejujuran bahwa apa yang tampak itu tak selalu nyata; mereka yang bernyanyi belum tentu bahagia, bisa jadi mereka menyanyi justru untuk melupakan kesedihan mereka.

Sebagai perwakilan penerbit, saya hadir di acara launching buku antologi Origins. Bertempat di Casa Luna, sebuah kafe yang lumayan unik; berdiri tepat di atas sebuah anak sungai, dilengkapi pemandangan alami yang dramatis berupa pepohonan yang serba hijau beserta akar belukarnya. Di lantai basement itu, kami semua duduk di atas anjungan yang sesungguhnya adalah “jembatan”, tepat mengangkangi anak sungai di bawahnya. Desain interiornya cukup eksotis, lukisan seorang penari Bali yang berukuran besar menjadi fokus, terpajang di salah satu sisi. Ruangan yang tak terlalu luas itu perlahan dipadati oleh hadirin: panitia, para patron, sponsor, dan tentunya para Emerging Writer si empunya lakon. Janet Deneefe juga hadir, memberikan sambutan dan ucapan selamatnya kepada para penulis. Pada satu sesi sebelum pembacaan karya oleh perwakilan penulis, Wayan Juniarta—salah seorang manajer kegiatan—menyebutkan nama dan meminta satu per satu pihak yang terlibat dalam penggarapan naskah tersebut agar maju ke atas panggung untuk diberikan applause dan foto bersama.

Di bagian penutup, empat orang penulis perwakilan membacakan karyanya. Dua buah puisi dan dua buah esai. Terpancar raut wajah semringah dan penuh gairah dari para penulis. Jelas, ini bukan launching biasa, mungkin pengalaman sekali dalam seumur hidup bagi mereka. Setelah acara demi acara tuntas, kami pun beramah tamah, mengobrol, sekadar bertukar kartu nama, atau obrolan serius lainnya menyangkut proyek penerbitan dan rencana-rencana mereka. Sebuah pengalaman berharga bagi saya untuk mengikut rangkaian acara tersebut dan bertemu dengan orang-orang luar biasa seperti mereka.

Tak terasa, enam hari saya berada di Ubud untuk mengikuti UWRF. Banyak pelajaran yang dapat saya petik, banyak pula pengetahuan yang ikut membenam di benak saya. Pada hari terakhir menjelang senja, panitia sudah berbenah, mengemasi barang-barang. Kursi-kursi, meja-meja, x-banner, dekorasi, bahkan “markas” media center pun mulai dirapikan. Itu semua menandai bahwa pesta literasi tersebut akan segera diakhiri. Seiring dengan hari yang semakin gelap, satu per satu venue menjadi sepi. Namun, bukan berarti semuanya selesai sampai di sana. Kesibukan justru beralih ke Blanco Renaissance Museum. Di sanalah Closing Ceremony yang meriah digelar. Pukul tujuh lebih sedikit, tarian pembuka dipentaskan. Pada malam penutupan itu tumpah ruahlah suka-cita para hadirin, pertunjukan tarian tradisional dan musik alernative-pop pun memberikan jejak yang penuh kesan bagi semua tamu. Pesan penyelenggara pun tak lupa disematkan untuk mengingatkan hadirin pada UWRF edisi berikutnya. Mereka memulainya dengan sangat baik dan menutup semuanya dengan manis.

Kendatipun saat itu status Gunung Agung bagi banyak orang masih membuat galau, tak surut minat para peserta dan pembicara untuk menghadiri festival tahunan di Ubud itu. Bahkan, Nuri Vitachi—ketua asosiasi penulis Asia Pasifik—pada Gala Opening dalam sambutannya menyebutkan bahwa mereka tak gentar untuk hadir ke Ubud, karena semangat merekalah Gunung Agung enggan meletus, katanya berseloroh. Ia memberikan apresiasi sekaligus motivasi bagi seluruh elemen yang terlibat. Ya, walaupun masih diterpa kekhawatiran erupsi Gunung Agung (bahkan panitia menganjurkan kepada seluruh peserta dan pembicara untuk membawa jas hujan dan masker), antusiasme semua orang tak mampu diredam. Acara berlangsung lancar, meriah, dan kaya makna. Sebagai sebuah ajang apresiasi literasi, seni, dan sastra, UWRF merupakan alam permai yang setiap tahunnya menggoda kita untuk berkunjung dan menjelajahinya; baik sekadar menikmati atmosfernya maupun memetik buah-buahan segar yang tumbuh subur di atas tanahnya. Bagi saya pribadi, sungguh saya tak kapok datang ke sana lagi. (Luttfi Fatahillah).

Selasa, 12 September 2017

Penerbitan Alternatif: Pejuang yang Bergerak di Keheningan


Sebuah pepatah anonim mengatakan, “Jika kau hanya punya satu nyawa, kau mesti belajar cara membaca.” Pepatah itu tak berlebihan rasanya, mengingat kegiatan membaca—seperti yang telah kita ketahui—sangatlah bermanfaat. Namun, tampaknya pengetahuan kita tentang pentingnya membaca tak lantas jadi suatu pemahaman maupun kesadaran. Betapapun ia telah menempel pada kerak di benak kita, kesadaran untuk melakukan aktivitas membaca tertinggal di langit-langit kerongkongan atau di ujung lidah semata. Ia tak lantas jadi suatu perilaku maupun kebiasaan yang mengejawantah.
Sangat sedih rasanya, mendengar hasil survei dari Connecticut State University tentang Most Literate Nations. Dari 62 negara yang disurvei, Indonesia hanya lebih baik daripada Bostwana (sebuah negara berkembang di Afrika Tengah), menempatkan negeri kita di urutan ke-61, kedua dari bawah. Mari kita renungkan hal tersebut. Betapa negara sebesar ini, dengan jumlah penduduk terbesar keempat, memiliki sumber daya alam terlengkap di dunia, ternyata tak dapat berbicara banyak di percaturan global. Fakta yang menohok ulu hati kita adalah: budaya literasi dan minat baca masyarakat kita sungguh di bawah rata-rata dibandingkan negara lain. Perlahan negara-negara tetangga mulai merangkak naik, Vietnam, Singapura, Malaysia, dan negara-negara lain di Asia Tenggara mulai menununjukkan tajinya. Sementara itu, dalam kaitannya dengan budaya literasi, negara kita hanya bisa berada di atas Kamboja dan Laos, tersisih dari negara-negara yang dikenal dominan di Asia Tenggara.
Kemudian, mari kita bergeser ke Barat. Negara-negara dengan sistem pendidikan terbaik seperti Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia, menempati posisi-posisi terbaik dalam rangking literasi dan pendidikan. Ternyata, itu sejalan pula dengan survei kualitas kesejahteraan penduduknya, menempatkan negara-negera tersebut di urutan 20 besar negara terkaya dan termakmur. Maka, simpulan yang dapat kita tarik ialah: Jika negara dan masyarakat ingin maju, jangan lupakan pendidikan dan literasi. Kedua hal tersebut menjadi fondasi untuk memajukan sebuah negeri. Perjuangan untuk menjadikan literasi sebagai fokus sama pentingnya dengan menjadikan sektor pendidikan sebagai prioritas pembangunan sumber daya manusia.
Lantas, bicara soal literasi tak akan terpisahkan dengan buku sebagai sumber bacaan. Manakala berbicara tentang buku, aktivitas penerbitan pun mutlak harus kita telaah sebagai keniscayaan dalam pengadaan suatu bahan bacaan. Oleh sebab itu, penerbitan mesti mendapat tempat yang istimewa. Termasuk sistem-sistem penerbitan lainnya yang tergolong ke dalam sistem penerbitan alternatif. Sedikit wawasan yang bisa dibagi, jumlah terbitan buku di Indonesia tergolong rendah, tidak sampai 18.000 judul buku per tahun. Jumlah ini lebih rendah dibanding Jepang yang mencapai 40.000 judul buku per tahun, India 60.000, dan China sekitar 140.000 judul buku per tahun. Tentunya hal ini patut menjadi pertanyaan, perbandingan jumlah penduduk Indonesia dengan jumlah judul yang diterbitkan tampaknya sangat tak sebanding. Lain halnya dengan Jepang misalnya, yang jumlah penduduknya setengah dari jumlah penduduk Indonesia, yang mampu menerbitkan hingga 40.000 judul per tahun (hampir 2,5 kali lipat dari jumlah judul terbitan per tahun di Indonesia). Tak dapat dipungkiri pula, bahwa Jepang memiliki kualitas pendidikan yang baik dengan status negaranya yang maju. Literasi, pendidikan, dan minat maca saling berkelindan, membentuk suatu sulur-sulur yang menjadi akar dan fondasi bagi kemajuan suatu bangsa. Dengan demikian, kita tak lagi boleh menutup mata terhadap unsur-unsur tersebut.
Nah, bicara soal penerbitan, secara umum terbagi menjadi penerbitan tradisional dan self publishing. Sederhananya, pada penerbitan tradisional, penulis menyerahkan naskahnya berikut hak ekonomi atau hak eksploitasi naskah tersebut kepada penerbit dalam jangka waktu yang ditentukan. Hal ini terjadi ketika penerbit merasa sreg dengan naskah tersebut dan melihat adanya prospek yang baik di pasar atas naskah tersebut. Penerbit konvensional ini kemudian akan menggarapnya melalui proses editorial, mencetaknya, hingga kemudian menerbitkannya. Adapun pada self-publishing, si penulis menerbitkan naskahnya sendiri hingga menjadi buku. Seringkali pada self-publishing, penulis memiliki brand sendiri sebagai bendera atas naskahnya. Permodalan hingga perhitungan keuntungan sepenuhnya diatur oleh si penulis.
Pada perkembangannya, muncul istilah hybrid publishing. Sistem penerbitan ini merupakan kategori yang tak menempatkan dirinya pada kedua kategori sebelumnya (di luar tradisional dan self publishing). Ia merupakan makhluk baru yang muncul karena improvisasi dari para penerbit mayor maupun dari sebuah agensi penerbitan atau penyedia jasa penerbitan. Pada penerbitan tradisional, si penulis dibayar dan diatur oleh penerbit. Pada penerbitan self publishing, si penulis mengeluarkan modal untuk buku yang dia terbitkan. Sementara pada sistem penerbitan hybrid, terdapat model-model tertentu yang disepakati kedua belah pihak; ada layanan yang digratiskan dan ada layanan berbayar; menyangkut hal-hal yang terkait dengan editorial, pencetakan, hingga pemasaran buku.
Kemudian, muncul pula penerbitan indie atau independent publishing. Istilah indie dan self publishing menjadi semakin menyaru dan seringkali saling menggantikan. Padahal, ia berbeda. Pada awal kemunculannya di Barat, indie merupakan suatu entitas penerbit yang tidak terafiliasi dengan penerbit-penerbit mayor. Ia terpisah dan membuat arus sendiri yang terkadang tak sejalan dengan arus utama. Bisa dibiliang, mereka mengusung misi tertentu beserta idealisme yang mereka perjuangkan. Penerbitan indie ini kemudian perlahan menjadi suatu aktor penerbitan yang semakin diperhitungkan. Muncul pula penerbitan digital sebagai respons atas perkembangan teknologi. Pada indie publishing—sebagaimana yang dipahami masyarakat—para penulis bisa lebih leluasa untuk menerbitkan bukunya, dengan variasi tema dan genre yang lebih luas.
Perkembangan dunia penerbitan kini mencapai suatu babak baru, ketika semua kategori penerbitan tadi menjadi semakin bercampur baur, tak terlihat lagi dengan jelas mana yang konvensional, mana self-publishing, indie, atau yang digital. Semua jenis penerbitan tadi bebas berkarya dan berimprovisasi untuk dapat bersaing.
Penerbit bercorak indie-digital pun mulai tumbuh dengan menawarkan berbagai platform, terutama menggunakan website. Di dalam negeri, Bitread publishing menjadi contoh salah satu penerbitan indie-digital yang menggunakan platform website untuk membantu para penulisnya berkarya. Dengan platform tersebut, para penulis baik profesional maupun pemula, memanfaatkan kemudahan-kemudahan dalam menerbitkan karyanya. Soal platform digital, di luar negeri sana ada Amazon yang berusaha memanfaatkan ceruk pasar dengan sangat ambisius. Mereka memiliki aplikasi yang mereka kembangkan sendiri, bersamaan dengan platform pemasaran yang juga telah sangat dikenal.
Penerbitan indie menjadi suatu bukti bahwa “selalu ada tempat bagi siapa pun”. Penerbitan indie memiliki keleluasaan untuk mendarat di pasar-pasar yang spesifik, bahkan pada tema maupun genre yang dipandang tak seksi sekalipun. Buku jenis apapun dapat digarap dengan metode penerbitan indie tersebut; yang kemudian dapat membuat arus baru bahkan melawan arus yang telah menghegemoni.
Perkembangan dunia penerbitan dewasa ini sangatlah menarik bagi para penulis, terutama para penulis indie. Anggapan bahwa naskah-naskah atau buku yang tidak diterbitkan penerbit mayor hanya akan berakhir di tong sampah menjadi salah besar. Kini, semakin banyak penulis yang muncul ke permukaan tanpa bermitra dengan penerbit mayor, mereka memilih penerbit yang terbilang kecil atau maju dengan sistem self-publishing. Para penerbit mayor bergulat di pasar yang telah didikte pasar, menyisakan ruang-ruang yang tak tersentuh yang bisa menjadi potensi bagi penerbit indie dengan jenis terbitannya yang lebih luwes dan fleksibel. Para penulis indie memiliki motivasi kuat dalam menerbitkan karyanya. Mereka punya misi sendiri untuk menerbitkan secara indie. Entah memang karena panggilan hati, sekadar berbagi, atau ingin memberikan kontribusi pada komunitas tempat ia berekspresi. Mereka berani beda, membuat setiap penulis indie memiliki keunikannya masing-masing.
Penerbitan alternatif menjadi sebuah wahana yang turut berjuang di garis terdepan untuk memajukan literasi negeri. Kendatipun belum banyak yang mengenal mereka; walaupun sering dipandang sebelah mata. Mereka bergerak dalam senyap, memotivasi masyarakat untuk menulis dan berkarya sebagai bentuk perjuangan dalam membangun budaya literasi negeri. Membaca ialah salah satu tingkatan dasar yang perlu menjadi kebutuhan wajib kita, dan menulis ialah tahapan berikutnya yang lebih tinggi. Tak hanya mengolah dan memproduksi wacana dari suatu bacaan, menulis ialah kegiatan mencipta, membagi ilmu, opini, pemikiran, dan suara hati yang kelak mengabadi lewat sebuah tulisan. Bukan soal tradisional atau self-publishing, konvensional, digital, atau indie, ini semua adalah tentang kita sebagai bangsa yang beradab, dengan impiannya untuk menjadi bangsa yang besar dan bermartabat melalui suatu belantara yang bernama literasi. Maka, apapun label dan gaya-nya, menulislah dan terbitkanlah. Buat Indonesia kembali disegani dunia.[Luttfi Fatahillah]

Minggu, 02 April 2017

The Face - Wajah |Premise+Outline|



Premise
Seorang perempuan, terpidana kasus pembunuhan-berencana, harus menjalani operasi bedah plastik karena wajahnya disiram air keras. Sesaat sebelum insiden penyiraman air keras  itu, terjadi kontroversi yang menimbulkan gejolak, perempuan itu tak divonis mati, ia hanya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, walaupun ia mengakui perbuatannya dan tak menyatakan penyesalan sedikit pun.

Outline
Seorang perempuan muda, Maya, membunuh secara terencana sahabatnya sendiri, Naila. Tak diketahui secara pasti apa motif di balik pembunuhan itu. Sidang kasus pembunuhannya tak mampu mengungkap motifnya, pun keluarga, dan termasuk pengacaranya sendiri. Maya memilih bungkam. Persidangan atas kasusnya menjadi persidangan yang cukup dramatis dan mencengangkan, Maya menolak menyampaikan pledoi, dan menyatakan tidak menyesal sedikitpun atas perbuatan yang telah ia lakukan. 

Sidang kasus pembunuhan itu pada prosesenya berjalan efektif dan tak bertele-tele. Hingga kejutan terbesar pun muncul, saat hakim menjatuhkan vonis pada persidangan yang kesekian. Ia menjatuhkan vonis penjara seumur hidup kepada Maya alih-alih vonis hukuman mati. Orang-orang terperanjat, massa yang hadir histeris. Jaksa menyatakan naik-banding, bahkan pengacara juga tak habis pikir mengapa hakim menjatuhkan vonis demikian. Maya tertegun namun juga lega. 

Insiden menghebohkan berikutnya terjadi ketika Maya hendak meninggalkan ruang sidang untuk kembali ke kantor polisi. Tiba-tiba, seorang pria menyiramnya dengan air keras dan secara telak mengenai wajah Maya. Rusuh dan panik menutup episode persidangan terakhir Maya.

Wajah Maya mengalami kerusakan yang sangat fatal. Publik menyikapinya dengan kasar, menyebut bahwa Maya layak mendapatkannya. Ganjaran, karma, balasan, apapun istilahnya, mereka senang karena si pembunuh kejam nan bengis itu menderita. Kabar simpang siur mengatakan wajah Maya melepuh dengan parah sehingga berubah menjadi tampak mengerikan.

Maya lantas dirawat intensif di sebuah rumah sakit. Namun selepas peristiwa yang dialaminya, keberuntungan kembali menghampiri perempuan itu tanpa disangka-sangka. Maya mendapat penawaran untuk menjalani operasi plastik demi memperbaiki wajahnya. Seorang sponsor misterius siap membiayai pembedahan itu, bahkan dengan dokter-dokter bedah spesialis yang ditunjuk langsung oleh sang sponsor. Maya tak mampu menolak. Identitas sponsor itu tak pernah diketahui. Sebagian orang menganggap hal itu sebagai sebuah perbuatan konyol, sebagian lagi menganggapnya mulia, terlepas dari latarbelakang Maya yang seorang pembunuh. Maya kemudian menjalani operasi rekonstruksi wajah. Sebuah operasi yang berat dan serius. Operasi itu sendiri dilakukan beberapa tahap. 

Pada suatu kesempatan setelah keadaannya stabil, Maya membuat semacam pernyataan terbuka yang diunggah melalui internet. Menilai dari pernyataannya itu, Maya tampak kian melunak. Ia mengaku sangat menyesal telah membunuh Naila, sahabatnya sendiri. Ia pun mengucapkan terima kasih kepada mereka yang telah memungkinkan operasi rekonstruksi wajah itu terwujud. 

Suatu waktu, pengacara pria yang tempo lalu menangani kasusnya menjenguk Maya di rumah sakit. Ia merasa Maya sangat beruntung; sejak mula vonis yang dirasa janggal itu, banding jaksa yang tidak dikabulkan (padahal ayah Naila sesungguhnya adalah seorang taipan bisnis yang kaya raya dan berpengaruh. Ia amat mengutuk perbuatan Maya dan menyatakan tak pernah rela Naila dihabisi Maya), hingga Maya berkesempatan menjalani operasi untuk memperbaiki wajahnya yang rusak itu. Apapun yang terjadi, sang pengacara tetap menyampaikan rasa simpatinya, terlebih setelah mengetahui Maya yang dari waktu ke waktu berubah menjadi lebih baik, dewasa, dan teduh. Maya hanya mengatakan bahwa Tuhan masih memberinya kesempatan, bahwa Tuhan begitu sayang padanya. Ia menyesal dan berjanji akan menjadi pribadi yang baru, kendatipun sisa hidupnya harus ia habiskan di dalam benteng penjara. 

Beberapa bulan kemudian, semua prosedur telah dilalui. Pemulihan pun berjalan dengan sempurna. Seorang dokter di rumah sakit tempat Maya dirawat memberi kabar gembira itu. Waktunya telah tiba untuk membuka perban yang menutupi wajah Maya. 

Seorang dokter dan perawat menemani Maya untuk melakukan proses itu. Duduk pada sebuah kursi, Maya menghadap cermin. Jantungnya berdegup kencang. Sang dokter dan perawat pun menantikan momen ini. Maya amat bersemangat untuk melihat hasil operasi tersebut. Mulailah si perawat melepas gulungan perban itu dengan sangat hati-hati. Lilitan perban yang menutupi wajah Maya pelan-pelan dilepas. Mulai dari atas kepalanya, terus menurun pada dahi dan seterusnya. 
Namun, wajah ceria dokter dan perawat itu memudar, pada satu titik, bulu kuduk mereka bahkan meremang. Maya lebih dari itu, semakin terbuka perban itu, semakin kuat pula cekam yang menyerang. Saat seluruh perban yang menutupi wajah itu dilepas, mereka semua tercekat. Mulut dokter dan perawat menganga, mata mereka terbelalak tak percaya. Sesaat kemudian, suara jeritan yang paling mengerikan bergema, memantul-mantul di koridor rumah sakit. Lalu senyap menyergap. Maya membatu. Ada wajah cantik Naila pada cermin itu.[Luttfi Fatahillah]


Kamis, 03 November 2016

#4112016 Sekadar Mengingatkan

#4112016
Saya hanya merasa perlu mengingatkan.
Dan peristiwa esok akan dicatat dalam sejarah.



Demonstrasi besar-besaran yang akan digelar besok bisa jadi unjuk rasa paling "panas" dalam beberapa tahun terakhir. Puluhan ribu orang dari berbagai elemen ormas diprediksi akan tumpah di jantung kota Jakarta. Tuntutannya satu: adili sang terduga penista Al-Quran.

Ini bukan semata soal agama atau keyakinan, ini juga menyangkut ranah politik yang penuh daya ledak. Kepentingan tak bisa kita paksa untuk menyingkir dari arena tersebut. Maka, yang baik dan yang jahat sangat mungkin melebur jadi satu menjadi kerumunan abu-abu. 

Pesan saya untuk orang-orang baik, jangan terprovokasi, jangan tersulut mereka yang mencaci-maki. Ingat selalu siapa kawan Anda, dan jangan sekalipun mencari lawan di sana. Kerumunan besar yang datang dari rupa-rupa golongan tak akan sepenuhnya bersatu, rongga-rongga itulah yang bisa dimanfaatkan mereka yang mencoba mengail ikan di air keruh.

Jika ternyata kalian terpaksa harus adu badan dengan aparat keamanan, ingatlah bahwa mereka juga muslim, mereka juga saudara, mereka juga punya keluarga. Pikirkan juga orang-orang baik di sana yang sama seperti kalian, yang hanya punya satu niat untuk membela kitab dan agamanya. Bisa jadi kalian berani dan punya nyala semangat yang berapi-api. Tapi ingat, esok bukanlah perang.

Redam emosi kalian jika godaan menghadang. Ingat tujuan kalian semula. Lawan kalian bukanlah dia atau mereka, lawan kalian adalah hawa nafsu kalian sendiri.

Semoga esok jadi hari yang baik, hari ketika kalian dimuliakan Allah karena kesalehan dan akhlak kalian. Hari ketika kalian menjadi insan yang sebenar-benarnya pembela Al-Quran. Semoga negeri ini menjadi bukti bahwa umat Islam tak pernah rela tinggal diam.


#4112016

Senin, 29 Agustus 2016

Rokok Tak Senikmat Dulu



Isu sudah kadung menyebar, harga rokok akan naik drastis. Jika saja benar-benar terjadi, orang harus rela merogoh koceknya lebih dalam agar bisa mengisap uap nikotin, tar, krom, timbal, hidrogen sianida, dan kroninya ke dalam paru-paru. Tak sedikit orang yang mulai bersungut-sungut mengomentari wacana ini. Sebentar lagi harga rokok naik, minimal Rp50.000 per bungkus. Komoditas yang dalam billboard-billboard besar di jalanan selalu dipampang dengan atribut “membunuhmu” ini, harganya tak lagi bisa dibilang murah. Tentu tak begitu saja harga rokok bisa dinaikkan, perlu ada kajian mendalam dari sisi ekonomi, industri, petani, hingga sektor lapangan kerja.
Wacana ini muncul setelah dirilisnya sebuah penelitian yang dilakukan oleh para akademisi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Simpulan dari penelitian itu menyatakan bahwa ada keterkaitan yang erat antara harga rokok dan jumlah perokok. Tim peneliti mengungkap bahwa mayoritas perokok (jumlahnya sampai 70-an persen dari populasi), akan berhenti merokok jika harga rokok dinaikkan dua kali lipat. Sepintas, masuk akal. Jika harga naik, permintaan akan berkurang. Berangkat dari hasil penelitian itu, muncul gagasan untuk menaikkan harga rokok agar masyarakat bolak-balik berpikir sebelum membelanjakan uangnya demi segulungan koktail kimia yang disebut rokok. Harapannya, pelan-pelan jumlah perokok akan menurun.
Tapi rasanya tak sesederhana itu. Ini pandangan saya sebagai orang awam, saya tidak pernah melakukan penelitian, pun bukan kapasitas saya untuk memberikan penilaian tentang ini. Hanya saja, saya agak tergelitik, kala memikirkan seperti apa sesungguhnya (dan apa yang terjadi) di dalam benak seorang perokok. Katakanlah harga rokok jadi naik. Si perokok berpikir tujuh kali saat hendak membeli rokok, ia berniat untuk mengurangi jatah konsumsi rokoknya. Tapi kemudian, pada satu titik ia dilanda galau dan semakin terpojok, hingga tergoda untuk memaksakan diri membeli sebungkus rokok supaya ia bisa tetap merokok seperti sedia kala. Rokok itu adiktif, persis dengan narkoba. Apa pernah dengar pengguna narkoba yang berhenti madat karena harga narkoba yang mahal? Kemungkinannya kecil sekali (kalau tidak mau dibilang “tidak mungkin”). Yang ada malah kondisinya semakin parah. Si pecandu bisa melakukan apa saja demi memperoleh rupiah untuk digunakan membeli narkoba. Sudah jadi kebenaran umum bahwa ada banyak orang yang melakukan tindak kriminal ataupun asusila agar mampu membeli narkoba langganannya. Demikian halnya dengan rokok. Salah-salah orang malah nekat. Saya tak akan membuat andai-andai yang menakutkan, tapi coba bayangkanlah bagaimana jika si perokok jadi rajin menabung. Ia menyisihkan sedikit harta dan rezekinya agar bisa membeli sebungkus gulungan koktail kimia itu. Jumlah yang apabila dikumpulkan mungkin bisa digunakan untuk menyekolahkan anak atau dijadikan modal usaha. Stres pun rentan menjamur, sebab mereka yang penghasilannya pas-pasan—yang hanya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari—jelas tak akan mampu meng-cover “kebutuhan”-nya akan rokok.
Adakah hal lain yang perlu kita tengok? Misalnya, apa yang terjadi dengan para perokok berduit? Para perokok berduit boleh jadi tidak masuk dalam populasi yang diteliti oleh para akademisi tadi. Atau mungkin porsinya tak dapat jatah besar dalam sampel penelitian itu. Orang kaya atau yang punya penghasilan berlebih jelas tak akan terpengaruh. Mau harga rokok berapapun tak akan terlalu diambil pusing. Kebiasaan merokok tetap jalan, ia masih mampu petantang-petenteng, bahkan kali ini dengan prestise yang berlipat, sebab rokok bukan lagi barang murah. Lalu, bagaimana dengan produsen rokok? Akankah mereka terpengaruh? Akankah mereka jadi gulung tikar (alih-alih gulung tembakau)? Bisa jadi tidak secepat itu, sebab bagi para pecandu rokok, merokok adalah “kebutuhan” dan bukan sekadar gaya hidup yang hanya diberi label tersier. Lalu para produsen rokok dengan konsumen dari lapisan masyarakat yang berduit bagaimana? Tidak terlalu banyak pengaruhnya bagi mereka. Bagi rokok lokal pun, kenaikan cukai rokok juga tidak cukup berdampak. Apa yang sesungguhnya menjadi perhatian mereka ialah rokok-rokok impor, yang kini melahap 60% dari pangsa pasar Indonesia. Itulah yang sejak lama mereka khawatirkan. Apapun yang terjadi—jika harga rokok benar-benar naik—Indonesia tidak lantas kiamat.
Pendapatan APBN dari rokok mencapai ratusan triliun, dan tren-nya terus meningkat dari tahun ke tahun. Di samping itu, industri rokok adalah penyumbang devisa terbesar, bahkan jauh lebih besar daripada penerimaan sektor migas. Soal kenaikan harga rokok ini memang perlu pertimbangan masak-masak, ini bicara realitas. Misalnya saja, kita mesti memperhatikan nasib para petani tembakau. Lalu fakta bahwa jumlah tenaga kerja yang terserap oleh industri rokok angkanya mencapai jutaan kepala. Di tengah perjuangan melawan pengangguran, jumlah angkatan kerja sebanyak itu tak dapat dipandang sebelah mata. Ya, jika industri rokok dimandulkan atau bahkan dihentikan, seolah-olah dunia kiamat. Tapi, ingatlah, bahwa bertahun-tahun lamanya industri rokok memberikan “sumbangan” yang luar biasa besar bagi APBN dan devisa kita. Apakah tidak pernah selintas pun terpikir, cobalah dari nilai yang triliunan itu kita alokasikan sekian persen untuk membangun industri baru, disisihkan setiap tahun. Model industri baru itu harus mampu merangkul para pengusaha, petani, pekerja, atau siapa pun pemangku kepentingan yang terasosiasi dengan industri rokok. Carilah suatu solusi, suatu terobosan yang dapat menjadi substitusi industri rokok. Ada jutaan orang pintar di Indonesia, mestinya salah seorang dari mereka mampu mendobrak kejumudan ini.
“Rokok membunuhmu” adalah ungkapan yang dramatis untuk menggambarkan bahaya rokok. Lebih miris lagi ketika kita saksikan kata-kata itu terpampang jelas di iklan-iklan, di kemasan rokok, bahkan di papan-papan reklame sebesar alaihum gambreng yang bertebaran di jalan. Logikanya seperti ini: sudah jelas rokok itu bahaya, sudah jelas rokok itu bisa bikin paru-paru kita kian berongga. Tapi mengapa ia masih diiklankan dan dijual bebas mulai warung-warung di gang sampai toko swalayan di pinggir jalan? padahal kata-kata horor “rokok membunuhmu” ada di setiap bentuk pariwara rokok. Kita membacanya di mana-mana hampir setiap hari, di televisi, poster, hingga reklame raksasa yang nampang dengan begitu mencolok di jalan-jalan besar. Jika tahu benda itu dapat membunuh, mengapa ia masih diiklankan begitu rupa secara masif?
Ini opini saya. Anda kira saya bukan perokok? Jangan salah, saya juga perokok … pasif. Anda juga mungkin perokok pasif, ibu anda juga, anak anda juga, tetangga anda yang sedang hamil juga, bahkan bayi dan anak-anak anda juga. Banyak dari kita adalah perokok … pasif. 
Jadi, rokok akan naik harganya? Saya bukan orang yang apatis, juga tak suka senang sikap apriori. Saya hanya bisa berimajinasi dan menyuarakan opini. Menurut saya, naiknya harga rokok tak akan banyak membantu. Saat ini kita hanya punya satu solusi: berhentilah merokok. Teman-teman yang sekarang masih merokok harus camkan bahwa merokok adalah aktivitas yang merusak, tak hanya pribadi, tapi juga masyarakat. Ia juga mengancam generasi penerus kita. Jika mereka para pecandu narkoba saja ada yang sanggup bertobat, maka mengapa anda kalah dan menyerah hanya karena sejumput koktail kimia yang disebut rokok? Ini bukan soal bisa atau tidak; mungkin atau mustahil; ini soal “mau” atau “tidak”. Titik.[Luttfi Fatahillah]

Kamis, 18 Agustus 2016

BREAKING NEWS

BEWARA!
kawan-kawan, ada lomba menarik nih buat kamu yang doyan nulis dan suka nge-blog. Lomba menulis artikel tentang Pangkal Pinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Hadiahnya asyik, total 25 jutaan untuk 20 orang pemenang. keterangan lengkap bisa cek di microsite lombanya: www.bitread.co.id/pesonapangkalpinang #pesonapangkalpinang [Luttfi Fatahillah]




Selasa, 16 Agustus 2016

Menjadi Manusia karena Buku

Apa yang paling berharga dari seorang manusia ialah akal pikirannya. Inilah yang membedakan manusia dengan hewan. Kedua makhluk ini sama-sama makan, sama-sama melakukan ekskresi, sekresi, dan sama-sama bereproduksi. Bedanya, kita bisa bernalar dan menggunakan hati, sementara hewan tidak. Otak dan hati merupakan dua elemen yang membentuk akal dan pikiran. Oleh karena itu di dalam Islam, ada hikmahnya mengapa gerakan sujud menjadi momen yang teramat dahsyat. Salah satu wujud mengagungkan Tuhan sekaligus mengerdilkan diri kita ialah dengan cara bersujud. Otak kita yang sangat berharga ini--di dalamnya terdapat triliunan sel, memuat 1 miliar bit memori (setara dengan 500 set ensiklopedi lengkap), 100 miliar neuron yang fungsinya mengingat dengan 100 triliun koneksi di antara mereka--diletakkan sejajar dengan kaki yang begitu rendah, menyentuh tanah, seolah sederajat dengan telapak kaki kita yang sering menapak pada sesuatu yang kotor. Timbunan protein dan jaringan yang kita namakan otak ini, tak ternilai harganya. Di sanalah ide dan gagasan manusia lahir; meletup dan berdenyut setiap saat.

Produk dari onggokan yang dinamai otak ini adalah ide atau pemikiran. Dengan pemikiran, orang bisa jadi apa saja, orang juga bisa berubah menjadi apa saja. Anda bisa memaksa seseorang untuk melakukan apa pun yang anda mau, tapi tidak demikian dengan pikirannya. Isi hati dan pikiran seseorang takkan dapat dipaksa oleh ancaman atau tekanan dalam wujud lahiriah. Itulah yang membuat sebuah ideologi dapat hidup langgeng walaupun si pencetusnya telah mangkat. Yusuf Estes pernah berkata, "Anda dapat mengunci saya di dalam sebuah peti, lalu melempar saya ke lautan, tapi Anda tidak dapat melakukan apa-apa pada hati (pikiran) saya." Maka, untuk mengubah perilaku atau pemikiran seseorang, caranya ialah dengan melakukan interaksi pemikiran, bukan dengan kekerasan atau tindakan fisik yang gegabah lagi picik. Anda tak bisa meminta seseorang agar berbuat baik melaui paksaan.

Ada banyak media untuk menyuguhkan pemikiran. Apalagi di era teknologi canggih seperti sekarang ini, rupa-rupa media tersedia. Kita hanya tinggal memilihnya saja, sesuai sasaran dan gaya kita. Tapi di tengah itu semua, buku masih menjadi media yang terpandang. Sebab di dalam sebuah buku, tercurahlah gagasan-gagasan dari otak manusia yang tak ternilai harganya. Ia menjadi corong bagi tersebarnya berbagai idealisme dan pemikiran; hasil sulingan ide untuk dicecap segala jenis nalar dan logika. Apa pun bentuknya, baik itu di alam nyata maupun yang tersedia di dunia maya, buku tetap menjadi etalase intelektual yang menawarkan riuhnya gempita pemikiran.

Tanpa ide dan pikiran, tak akan ada buku. Oleh musabab itu, buku dan gagasan menjadi dua sejoli yang tak terpisahkan. Selama ada gejolak pemikiran, buku akan tetap ada. Ia akan senantiasa hadir di tengah peradaban, merekam, melanggengkan, atau justru memupusnya. Maka manusia dengan otaknya yang dijejali ide, tak akan mampu lepas dari buku. Pada tingkatan yang lebih tinggi, membaca saja tidak cukup, tapi menulislah, sebab menulis adalah sarana manusia untuk mencapai "keabadian".

Memandang buku sebelah mata adalah penghinaan terhadap takdir Tuhan. Orang yang tak peduli pada buku sesungguhnya sedang melakukan salah satu keteledoran yang berbahaya. Jika buku tak punya daya teramat hebat, mengapa Tuhan memutuskan untuk memuat firman-Nya pada mushaf-mushaf yang disebut buku? Mesti kita ingat juga, bahwa dalam kepercayaan umat Muslim, ayat pertama yang dilafalkan sang nabi ialah "Iqra" (bacalah; membaca teks, membaca alam semesta, membaca keagungan Tuhan). Merupakan suatu kezaliman manakala kita menganggap buku sebagai benda tak berharga. Sebuah kutipan anonim menyebutkan, "jika kau merasa hanya punya satu nyawa, kamu mesti belajar caranya membaca buku."

Buku bisa mengubah hidup kita. Tentu kita masih ingat dengan cerita tentang petualangan sekelompok anak di pesisir Belitung yang ternyata kelak memberikan dampak positif pada masyarakat di sekitar sana. Tak hanya itu, orang pun jadi tergerak untuk menggali lebih dalam tentang hakikat pendidikan. Jangan lupa juga bagaimana Max Havelaar dapat membukakan mata dunia tentang ironi kekuasaan dan penderitaan bangsa ini kala Indonesia dijerat kolonialisme model lama. Atau coba bacalah The Old Man and The Sea, atau buku-buku motivasi tulisan Nick Vujicic dan Parlindungan Marpaung yang inspiratif dan mengena di hati. Jadi, buku jelas punya daya dan mampu mengubah. Jika kita masih saja tak peduli dengan buku yang dengan narasinya mampu mengubah kehidupan, maka tanyalah diri kita; pantaskah kita disebut manusia.[Luttfi Fatahillah]

Minggu, 26 Juni 2016

GatotKaca! (Gagal Total Kalo Nggak Ngaca!)



Sebuah pepatah yang di dalamnya menyebut-nyebut “semut” dan “gajah” sering kali kita ucapkan kala menyindir seseorang. Kata pepatah itu, kesalahan-kesalahan orang lain mudah sekali tampak, sedangkan kesalahan diri luput begitu saja. Sikap seperti ini seolah menjadi makanan kita sehari-hari, gampang sekali ditemui: di lingkungan keluarga, tempat kerja, kampus, sekolah, di mana saja. Pelakunya bisa atasan kita, bawahan, kolega, ayah, anak, istri, orang lain, dan tentu saja—diri kita sendiri. Hal ini tak lagi jadi fenomena langka, sebab sekarang ia menjadi lumrah adanya. Ia seperti wabah penyakit, saat-saat ketika hedonisme dan kemunafikan merajalela. Muncul pertanyaan, bisakah itu diubah? Jika kita anggap itu sebagai sifat kodrati manusia, jawabannya tentu saja “tidak”, tapi jika kita sedikit saja optimistis dan menganggapnya sebagai suatu penyakit, tentu kita semua sepakat bahwa tak ada penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Semua ada obatnya, kecuali kematian.
GatotKaca tidak bermaksud menggurui, sekadar mengajak berbagi tentang banyak hal di sekitar Anda. Di tengah itu semua, persoalan menyangkut pepatah “semut” dan “gajah” itu akan jadi benang merah. GatotKaca bertujuan untuk mengubah paradigma tentang kesalahan. Siapa yang berbuat salah dan apa akibatnya. Siapa yang harus mengubah dan seperti apa caranya. Tapi, tiap orang dapat menerimanya dengan cara yang berbeda, sebab sekali lagi GatotKaca tak pernah berniat menggurui. Si A bisa saja menangkap ocehannya sebagai x, tapi si B justru y. Yang jelas, ia tak pernah memaksa Anda untuk melakukan sesuatu, sebab segala hal yang muncul dari paksaan tak pernah hakiki, selalu artifisial.
GatotKaca menyuguhkan Anda macam-macam topik hangat. Sekali waktu Anda bisa menganggapnya sebagai hiburan semata sebab bisa jadi kental dengan kejenakaan. Bisa pula merasa kesal sebab ia seolah menceramahi anda dengan kasar. Atau justru tertampar, sebab Anda kemudian tersadar. Apa pun hasilnya, GatotKaca akan membawa Anda pada monolog ringan dan renyah. Mengajak Anda memikirkan kembali pepatah “semut” dan “gajah” dalam sudut pandang berbeda. GatotKaca meredam justifikasi negatif Anda terhadap orang lain, sebab apa pun yang terjadi, Anda memegang kendali atas pilihan-pilihan dalam hidup Anda. Jika Anda ingin berhasil dan “segalanya berjalan lancar”, tanamkanlah nilai-nilai dan etos luhur pada diri Anda. Stop menyalahkan orang lain. Evaluasi diri menjadi kunci. Hentikan buang-buang waktu dengan meneliti semut di ujung laut, sebab toh ada seekor gajah yang sedang nongkrong—tepat di pelupuk mata Anda.
GatotKaca coming soon on July … in this blog :) hehehe. [Luttfi Fatahillah]